Twitter Facebook Feed

FARMASI INTERAKSI OBAT


BUKU INTERAKSI OBAT
1. Interaksi obat pada pengobatan alergi (antihistamin)
Antihistamin menekan sistem syaraf pusat. Obat inimenekan atau mengurangi sejumlah fungsi tubuh eperti koordinasi dan kewaspadaan. Depresi berlebihan dan hilangnya fungsi tubuh dapat terjadi jika antihistamin digunakan bersama dengan dengan depresan sistem syaraf pusat lainnya.


2. Interaksi obat pada obat asma (bronkhial)
Obat yang paling umum digunakan untuk asma adalah obat dari kelompok epinefrin dan teofilin. Ke2nya merupakan stimulan sistem saraf pusat. Bila obat jenis ini diberikan bersama stimulan sistem saraf pusat lainnya, dapat terjadi rangsangan berlebihan.
3. Interaksi obat pada pil keluarga berencana
Pil KB jika diberikan bersama antibiotika golongan penisislin, tertasiklin,sulfonamid, dan antibiotik tunggal (kloramfenikol, Neomisin, rifampin), maka antibiotik tersebut akanmengurangi penyerapan hormon yang terkandung dalam pil KB, sebagian lagi akan menyebabkan tubuh lebih cepat menghilangkan zat tersebut.
4. Interaksi obat pada pencegahan koagulasi darah.
a. Interaksi yang akan meningkatkan efek antikoagulan adalah dengan : Alupurinil, Aspirin, Kloral hidrat, Kloramfenikol, Simetidin, Klorfibrat, Obat diabetets, Disulfiram, Asam etakrinat, Indometasin, Vaksin Influensa, Hormon pria, Asam mefenamat, Metimazol, Metronidazol, asam nalidiksat, Oksifenbutazon, Pepto bismol, Fenilbutazon, Propiltiourasil, kinidin, kinin, Sulfinpirazol, sulindak, Sulfonamid, Antibiotik tetrasiklin, tiroid.
b. Interaksi yang akan menurunkan efek antikoagulan adalah dengan: Alokohl, pil KB, Karbamazepin, Kolestriamin, Kortikosteroid, Estrogen, Etklorvinol, Glutetimida, Grisefulvin, Fenitoin, Primidon, Rifampin, Vit K.
5. Interaksi obat pada penanganan kanker
Obat kanker – Kloramfenikol = dapat meningkatkan resiko depresi sumsum tulang.
Oabt kanker – vaksin cacar (dan vaksin hidup lainnya) = dapat meningkatkan kepekaan terhadap infeksi dengan menekan sistem kekebalan tubuh.
6. Interaksi obat pada pengobatan flu dan batuk.
c. Interaksi obat pelega hidung.
Pelega hidung adalah stimulan sistem saraf pusat. Rangsangan berlebihan dapat terjadi jika suatu pelega hidung digunakan bersama stumulan sistem saraf pusat lainya.
d. Interaksi antihistamin.
Obat ini menekan atau mengurangi fungsi seperti koordinasi dan kewaspadaan. Depresi berlebihan dan pengurangan fungsi dapat terjadi jika suatu histamin digunakan dengan sistem saraf pusat lainya.
e. Interaksi pada sediaan batuk
Kodein – digoksin = efek digoksin bertambah.
Dekstrometorfan – antidepresan = menyebabkan tekanan darah rendah, mual, demam, dan koma.
Kalium iodida – litium = menyebabkan hiperparatiroidisme.
7. Interaksi obat pada penanganan antidepresan
8. Antidepresan siklik dan trazzdon adalah penekan sistem saraf pusat. Obat-oabt ini menekan atau mengurangi fungsi koordinasi dan kewaspadaan. Depresi jasmani yang kuat serta kehilangan fungsi akan terjadi jika suatu antidepresan digunakan bersama depresan sistem saraf pusat lainnya.
9. Interaksi obat pada penanganan diabetes.
f. Interaksi yang dapat meningkatkan efek obat diabetes adalah dengan: Alkohol, Alopurinol, Antikoagulan, Antidepresan (IMAO), Aspirin, Obat jantung pemblok beta, Kloramfenikol, Klofibrat, Insulin, Hormon pria, Oksifenbutazon, Pepto-Bismol, Fenilbutazon, Probensid, dan Sulfonamida.
g. Interaksi yang dapat mengurangi efek obat diabetes adalah dengan: Amfetamin, Obat asma, Obat jantung pemblok beta, senyawa pelega hidung, Kortikosterioda, pil pelangsing, yang mengandung fenilpropanolamin, Diuretika, Metilfenidat, Pemolin, Fenitoin, rifampin dan obat tiroid.
10. Interaksi obat pada pengobatan gangguan pencernaan(pengobatan dengan antasida)
Mula-mula terjadi 2 jenis interaksi. Pada interaksi pertama, antasida mempengaruhi penyerapan beberapa obat sehingga efek obat menurun. Pada interaksi ke-2, antasida mengubahh keasaman air kemih, menyebabkan beberapa obat diserap kembali oleh tubuh dan bukan dikeluarkan sehingga efefk obat meningkat. Kebanyakan interaksi dapat dicegah bila obat yang menunjukan interaksi digunakan 1 atau 2 jam setelah penggunaan antasida.
11. Interaksi obat pada penanganan insomnia.
Pil tidur adalah depresan susunan saraf pusat. Obat akan menekan atau mengganggu fungsi seperti koordinasi dan kesadaran. Penekanan atau gangguan fungsi yang berlebihan dapat terjadi bila pil tidur digunakan bersamaan dengan obat lainnya yang juga menekan susunan saraf pusat.

0 komentar: